Kamis, 05 Desember 2013

BEBERAPA MASALAH PENGELOLAAN KELAS



BABI
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kegiatan guru didalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan untuk siswa mencapai tujuan-tujuan seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan siswa, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan mengajar.
Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Masalah pengajaran harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat pengajaran dan masalah pengelolaan harus ditangani dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan. Dalam kenyataan sehari-hari kedua jenis kegiatan itu menyatu dalam kegiatan atau tingkah laku guru sehingga sukar dibedakan. Namun demikian, pembedaan seperti itu amat perlu, terutama apabila kita ingin menanggulangi secara tepat permasalahan yang berkaitan dengan kelas.
B.     Rumusan Masalah
1.      Sebutkan beberapa masalah dalam pengelolaan kelas!
2.      Apa saja jenis masalah dalam pengelolaan kelas?
3.      Bagaimana cara menghadapi masalah dalam pengelolaan kelas?









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Beberapa Masalah Pengelolaan Kelas
Gagalnya seorang guru mencapai tujuan pengajaran sejalan dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator kegagalan itu adalah prestasi belajar siswa rendah, tidak sesuia dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan. Karena itu pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang sangat penting dikuasai oleh guru dalam kerangka keberhasilan proses belajar-mengajar.[1]
Keanekaragaman masalah perilaku siswa yang menimbulkan beberapa masalah pengelolaan kelas menurut Made Pidarta adalah :
1). Kurang kesatuan dengan adanya kelompok-kelompok dan pertentangan     jenis kelamin.
      2). Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok.
      3). Reaksi negative terhadap anggota kelompok.
      4). Reaksi mentoleransi kekeliruan-kekeliruan.
      5). Mudah mereaksi perilaku negative / terganggu.
      6). Moral rendah, permusuhan, dan agresif.
      7). Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah.[2]
Kategori masalah pengelolaan kelas menurut Doyle (1986) terungkap dalam lima bentuk :
   1).  Berdimensi banyak (Multidimensionality)
Di kelas guru dituntut melaksanakan tugas edukatif (menyusun persiapan mengajar lengkap dengan alat serta sumber, menyampaikan pelajaran dan mengevaluasi) dan tugas administrative (mengabsen, mencatat data siswa, menyusun jadwal, mencatat hasil-hasil pengajaran, dan sebagainya).
      2).  Serentak (Simultaneity)
Berbagai hal dapat terjadi pada waktu yang sama di kelas.
       3).  Segera  (Immediacy)
Interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa terjadi timbale-balik begitu cepat, sehingga menuntut guru agar dapat segera bertindak melalui proses berpikir, menerima rangsangan dari luar, berpikir, memutuskan dan melaksanakan tindakan.
      4).  Iklim kelas yang tidak dapat diramalkan terlebih dahulu
      5).  Sejarah (History)
Peristiwa yang terjadi di kelas akan memiliki dampak yang akan dirasakan dalam waktu yang jauh sesudahnya.[3]
B.     Jenis masalah dalam Pengelolaan Kelas

Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat individual dan yang bersifat kelompok.
Ø  Masalah yang bersifat Individual.
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga, maka dia akan bertingkah laku menyimpang.
1.      Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).
Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
2.      Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan)
Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
3.      Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam).
Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada pasif. Anak-anak penuntut balas yang aktif sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
4.      Helplessness (peragaan ketidakmampuan).
Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus. Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri. Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.[4]
Ø  Masalah bersifat kelompok.
Masalah Kelompok, dikenal adanya tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
1.      Kelas kurang kohesif (akrab), karena alasan jenis kelamin, suku, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya.
2.      Kekurang mampuan mengikuti peraturan kelompok. Seperti Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya.
3.      Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok.
4.      Penerimaan kelas (kelompok) atau tingkah laku yang menyimpang.
5.      Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.
6.      Ketiadaan semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes.
7.      Ketidak mampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan.[5]
C.    Cara Menghadapi Masalah dalam Pengelolaan Kelas.
Salah satu cara yang tepat dalam menghadapi suatu permasalahan pengelolaan kelas terutama dengan anak–anak didik adalah dengan menggunakan suatu pendekatan. Pendekatan pertama ialah dengan menerapkan sejumlah “larangan dan anjuran” misalnya:
1.      Jangan menegur siswa di hadapan kawan-kawannya.
2.      Dalam memberikan peringatan kepada siswa janganlah mempergunakan nada suara yang tinggi.
3.      Bersikaplah tegas dan adil terhadap semua siswa.
4.      Jangan pilih kasih.
5.      Sebelum menghukum siswa, buktikanlah terlebih dahulu bahwa siswa itu bersalah.
6.      Patuhlah pada aturan-aturan yang sudah anda tetapkan. Dalam menghadapi masalah-masalah pengelolaan kelas.
Pendekatan yang kedua yakni memakai proses kelompok, didasarkan atas pertimbangan bahwa tingkah laku yang menyimpang pada dasarnya bukanlah peristiwa yang menimpa seorang individu yang kebetulan menjadi anggota kelompok kelas tertentu, namun adalah peristiwa sosial yang menyangkut kehidupan kelompok dimana individu itu menjadi anggotanya.
Teori pengubahan tingkah laku berpendapat bahwa penguasaan tingkah laku tertentu sejalan dengan usaha belajar yang hasil-hasilnya akan memperoleh ganjaran, bahwa penampilan tingkah laku yang dimaksudkan itu akan menghasilkan penguatan tertentu. Teori ini pada dasarnya mengatakan bahwa semua tingkah laku, baik tingkah laku yang disukai ataupun yang tidak disukai, adalah hasil belajar. Mereka yang percaya pada teori ini berpendapat bahwa: (1) penguatan (reinforcement) positif, penguatan negatif, hukuman dan penghilangan (extinction) berlaku bagi proses belajar pada semua tingkatan umur dan dalam semua keadaan, dan (2) proses belajar sebagian atau bahkan seluruhnya dipengaruhi (dikontrol) oleh kejadian-kejadian yang berlangsung di lingkungan. Penguatan ini dipandang sebagai kejadian yang meningkatkan kemungkinan diulanginya penampilan perbuatan (tingkah laku) tertentu, dengan demikian perbuatan atau tingkah laku diperkuat. Tingkah laku yang diperkuat itu boleh berupa tingkah laku yang disukai ataupun yang tidak disukai.
Tujuan utama bagi guru yang menangani tingkah laku yang menyimpang itu ialah membantu kelompok itu bertanggungjawab atas perbuatan anggota-anggotanya dan pengelolaan kegiatan kelompok itu sendiri. Kelompok yang berfungsi secara efektif dapat melakukan kontrol yang mantap terhadap anggota-anggotanya.[6]






BAB III
PENUTUP

Kesimpulan:
1. Beberapa masalah pengelolaan kelas menurut Made Pidarta adalah :
*      Kurang kesatuan dengan adanya kelompok-kelompok dan pertentangan     jenis kelamin.
*      Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok.
*      Reaksi negative terhadap anggota kelompok, dll.
2. Jenis masalah dalam Pengelolaan Kelas
Ø  Masalah yang bersifat Individual.
a)      Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).
b)      Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan), dll.
Ø  Masalah bersifat kelompok.
a)      Kelas kurang kohesif (akrab), karena alasan jenis kelamin, suku, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya.
a)      Kekurang mampuan mengikuti peraturan kelompok. Seperti Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya, dll.
3.      Cara menghadapi masalah dalam Pengelolaan Kelas
·         Jangan menegur siswa di hadapan kawan-kawannya.
·         Dalam memberikan peringatan kepada siswa janganlah mempergunakan nada suara yang tinggi.
·         Bersikaplah tegas dan adil terhadap semua siswa, dll.




[1] Saiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain,  Strategi Belajar Mengajar Cetakan IV, (Jakarta : Rineka Cipta, 2010), 194.
[2] Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta : Rineka Cipta, 1991), 150.

[4] http://astitirahayui.wordpress.com/2012/01/25/629/ Diakses pada tgl. 8 November 2013, pkl. 10:32 WIB.
[5] http://contohmakalah.info/problematika-masalah-pengelolaan-kelas/ Diakses pada tgl. 8 November 2013, pkl. 10:45 WIB.

2 komentar: