Sabtu, 26 Oktober 2013

ARAB PRA ISLAM



ARAB PRA ISLAM

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
“SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM KLASIK”

  
Disusun Oleh:
Fuadatul Hariroh                     (210311089)


Dosen Pengampu :
Yusmicha Ulya Afif, M.Pd.I

TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PONOROGO
2012



BAB I
PENDAHULUAN
Mengkaji tentang Islam akan lebih sempurna bila kita mengkaji Arab pra-Islam terlebih dahulu, karena Islam lahir di tengah-tengah masyarakat Arab yang sudah mempunyai adat istiadat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Apalagi ia muncul di kota terpenting bagi mereka yang menjadi jalur penting bagi lalu lintas perdagangan mereka kala itu, dan dibawa oleh Nabi Muhammad SAW (570-632 M) yang merupakan salah satu keturunan suku terhormat dan memiliki kedudukan terpandang di antara mereka secara turun-temurun dalam beberapa generasi, Quraysh adalah suku penguasa di atas suku-suku lainnya di Mekah, sebuah kota yang di dalamnya terdapat bangunan suci tua yang memiliki daya tarik yang melebihi tempat-tempat pemujaan lainnya di daerah Arab.
Peradaban Arab adalah akibat pengaruh dari budaya bangsa-bangsa disekitarnya yang lebih dulu maju dari pada kebudayaan dan peradaban arab melalui beberapa jalur; yang penting diantaranya adalah melalui hubungan dagang dengan bangsa lain, melalui kerajaan-kerajaan dan masuknya misi Yahudi dan Kristen.[1]

            RUMUSAN MASALAH.
1.      Bagaimanakah keadaan Arab sebelum Islam?
2.      Bagaimanakah keadaan geografis jazirah Arab?
3.      Bagaimanakah sosial dan budaya di Arab pra Islam?
4.      Apa saja agama-agama yang berkembang di Arab pra Islam?
5.      Bagaimanakah keadaan ekonomi bangsa Arab pra Islam?



                                                                     BAB II      
PEMBAHASAN
1.      MASYARAKAT ARAB PRA ISLAM
Bangsa Arab pra Islam selalu identik dengan sebutan jahiliah, meskipun perlu dipahami kembali makna jahiliah. Selama ini jahiliah diartikan bodoh tidak tahu baca tulis, padahal terdapat bukti sejarah yang manunjukkan kecerdasan bangsa Arab baik melalui syi’ir dan lainnya.[2] Berbicara mengenai Arab pra Islam maka harus selalu dikaitkan dengan lingkungan dan keadaan alam sekitarnya serta kondisi masyarkat. Ketiga faktor itulah yang menentukan karakteristik atau watak suatu bangsa. Untuk itu, pembahasan Arab pra Islam bisa dipahami dari beberapa aspek, yaitu (1) aspek geografis, (2) politk, (3) kepercayaan, (4) sosial, (5) ekonomi, (6) budaya. Namun tetaplah dipahami bahwa kedatangan Islam di Arab meminjam istilah Roeslan Abdul Gani bukan pada masa vacuum cultural, artinya sudah ada peradaban yang terbilang matang sebelumnya. Pemahaman akan aspek-aspek tersebut akan sangat membantu kita dalam memahami sebab atau faktor merebabnya Islam di jazirah Arab bahkan kemundurannya nanti.

A.    KONDISI GEOGRFIS.
Dinamakan jazirah Arab bukan berarti bangsa Arab saja yang mendiaminya melainkan mereka menjadi kelompok mayoritas didalamnya. Letak jazirah Arab ini di ujung barat daya Asia. Sebelah utara berbatasan dengan Syam, sebelah timur dengan Persia dan laut Oman, sebelah selatan oleh samudra India, dan sebelah baratnya dibatasi laut merah. Untuk memahami geografis Arab ini bisa dipersempit kedalam dua wilayah yaitu Yaman dan Hijaz. Perbedaan dua wilayah tersebut dapat dilihat di bawah ini:
No
Yaman
Hijaz
1.
Berada di Arab Selatan.
Arab Utara.
2.
Merupakan turunan dari Qohthon.
Keturnan Ismail bin Ibrahim.
3.
Identik dengan Yamaniyyun.
Identik  dengan Adnaniyyun.
4.
Hidup menetap.
Masih mengembara dan tidak menetap.

Secara rinci kedua daerah diatas dapat digambarkan sebagai berikut:
a.       Hijaz adalah daerah yang tanahnya tandus namun merupakan jalan perdagangan yang menghubungkan antara Syam dan Yaman. Kondisi ini berdampak pada psikologis penduduknya dimana mereka selalu berpindah-pindah dan tidak mau berusaha untuk hidup lebih baik.
b.      Sedangkan Yaman dari dahulu terkenal dengan tanahnya yang subur dan kaya.
Geografis Arab diatas dipertegas dengan pernyataan Abdul Razak, dikatakan bahwa lingkungan bangsa Arab adalah padang pasir yang tandus, sangat kurang air, dan tidak ada suatu ketenangan hidup untuk menetap dalan suatu tempat.[3]
Kedua daerah diatas semakin menjelaskan struktur masyarakat yang dihadapi Nabi dalam menjalankan dakwahnya, keslitan Nabi ataupun kemudahannya, salah satunya dipengaruhi aspek geografis. Penduduk Madinah misalnya, sangat mudah dan cepat menerima ajaran baru dikarenakan aspek geografis mendukung. Sebaliknya daerah Makkah sekitarnya terkesan sulit dalam menerima ajaran baru dikarenakan geografis daerahnnya .

B.     KONDISI POLITIK.
Jazirah Arab sebelum Islam diapit dua kerajaan besar, Kerajaan Romawi Timur di sebelah Barat dan kerajaan Persia di sebelah Timur. Daerah utama kerajaan Romawi adalah Rum ( Turki dan Eropa sekarang), Asia kecil, Syiria (Syam), Mesir, Afrika Utara, dan Etophia. Sedangkan kerajaan Persia meliputi Iran, Irak, dan wilayah teluk Persia dan jazirah Arab bagian utara. Kedua kerajaan tersebut tidak pernah sepi dari peperangan, akibatnya rakyat kedua kerajaan tersebut hidup dalam penderitaan. Jazirah Arab sendiri merupakan daerah netral hingga dapat dikatakan Islam yang dasarnya diletakkan oleh nabi di Makkah dan Madinah adalah agama yang murni, tidak dipengaruhi baik oleh perkembangan agama-agama yang ada di sekitarnya maupun kekuasaan politik yang melingkupinya.[4]
Berbicara mengenai pemerintahan dikalangan bangsa Arab sebelum Islam terbuktikan dengan adanya kerajaan-kerajaan seperti berikut, yaitu:
1.      Arab Baidah.
Mereka mendirikan kerajaan Aad kaum Tsamud dan kerajaan Al Ambath (Amaliqoh). Data pendukung disinyalir sangat sulit ditemukan. Daerah kekuasaan meliputi Irak, Syiria, India, dan Mesir.
2.      Arab Aribah yang sering disebut Qohtoniyyah.
Kerajaan yang didirikan berada di Yaman yaitu kerajaan Mainiyyah, Sabaiyyah (610-115 SM) yang terkenal dengan bendungan ma’rib (Sad al Ma’rib) dan Himyariyyah yang identik dengan peperangan dan perluasan wilayah.
3.      Arab Musta’rabah yang berpusat di Makkah dan Yatrsib.
Kerajaan yang ada pada periode ini adalah kerajaan Gassaniah yang merupakan Buffer statenya Romawi dan menjadikan agama kristen sebagai agama resminya. Sedangkan Hirah merupakan Buffer statenya Persia yang pada perkembangan selanjutnnya diambil alih orang persia.
Namun dalam referensi lain dikatakan, bahwa keadaan politik sebelum Islam dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1.      Kabilah Badui (pedalaman)
Merupakan kabilah yang hidupnya terpencar-pencar dan diikat oleh ikatan darah dan fanatisme
2.      Kerajaan Kindah (480-529)
3.      Kerajaan di perkotaan yang terletak di tiga kawasan yaitu Yaman, wilayah utara dan Hijaz.
Kerajaan-kerajaan diatas secara umum dapat dikatakan dalam kondisi politik yang labil dimana satu sama lain selalu disibukkan dengan mempertahankan diri dan memperluas kekuasaan.
Pada wilayah perkotaan terdapat kerajaan-kerajaan yang berpusat pada tiga kawasan yaitu Yaman, wilayah utara dan Hijaz.[5]

C.    KONDISI KEPERCAYAAN.
Sebelum Islam datang, bangsa Arab telah menganut agama yang mengakui bahwa Allah sebagai tuhan mereka. Kepercayaan ini diwarisi secara turun-temurun sejak Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Al-Qur’an menyebut agama itu dengan hanif, yaitu kepercayaan yang mengakui keesaan Allah sebagai pencipta alam, Tuhan menghidupkan dan mematikan, Tuhan yang memberi rezeki dan sebagainya.
Keparcayaan kepada Allah tersebut tetap di yakini oleh bangsa Arab sampai kerasulan Nabi Muhammad S.A.W. Hanya saja keyakinan itu dicampur-baurkan dengan tahayul dan kemusrikan, mensekutukan Allah dengan sesuatu dalam menyembah dan kepada-Nya, seperti roh, jin, hantu, bulan, matahari, tumbuh-tumbuhan,  berhala dan sebagainya.[6]
Sehingga dapatlah disebutkan bahwa kepercayaan atau agama sebelum Islam sebagai berikut:

No
Agama atau kepercayaan
Tempat
1.
Kristen
Romawi dan Eropa.
2.
Ajaran Zoroaster (ajaran menyembaah api)
Persia
3.
Budha
Tiongkok
4.
Watsni (pemujaan berhala) yang kemudian berkembang ke kasta.
India
5.
Berhala/ watsani
Arab
6.
Ratu Balqis yang menyembah matahari
Yaman[7]

D.    KONDISI EKONOMI.
Sumber ekonomi utama yang menjadi penghasilan orang Arab adalah perdagangan dan bisnis. Perdagangan menjadi darah daging orang-orang Quraisy. Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa sebagian besar daerah Arab adalah daerah gersang dan tandus, kecuali daerah Yaman yang terkenal subur dan bahwa ia terletak di daerah strategis sebagai lalu lintas perdagangan. Ia terletak di tengah-tengah dunia dan jalur-jalur perdagangan dunia, terutama jalur-jalur yang menghubungkan Timur Jauh dan India dengan Timur Tengah melalui jalur darat yaitu dengan jalur melalui Asia Tengah ke Iran, Irak lalu ke laut tengah, sedangkan melalui jalur laut yaitu dengan jalur Melayu dan sekitar India ke teluk Arab atau sekitar Jazirah ke laut merah atau Yaman yang berakhir di Syam atau Mesir. Oleh karena itu, perdagangan merupakan andalan bagi kehidupan perekonomian bagi mayoritas negara-negara di daerah-daerah ini.
Ditambah lagi dengan kenyataan luasnya daerah di tengah Jazirah Arab, bengisnya alam, sulitnya transportasi, dan merajalelanya badui yang merupakan faktor-faktor penghalang bagi terbentuknya sebuah negara kesatuan dan menggagalkan tatanan politik yang benar.
E.     KONDISI KEBUDAYAAN
Keadaan Arab yang gersang dan tandus  itu menjadikan loyalitas mereka terhadap kabilah di atas segalanya. Seperti halnya sebagian penduduk di pelosok desa di Indonesia yang lebih menjunjung tinggi harga diri, keberanian, tekun, kasar, minim pendidikan dan wawasan, sulit diatur, menjamu tamu dan tolong-menolong dibanding penduduk kota, orang Arab juga begitu sehingga wajar saja bila ikatan sosial dengan kabilah lain dan kebudayaan mereka lebih rendah. Ciri-ciri ini merupakan fenomena universal yang berlaku di setiap tempat dan waktu. Bila sesama kabilah mereka loyal karena masih kerabat sendiri, maka berbeda dengan antar kabilah. Interaksi antar kabilah tidak menganut konsep kesetaraan; yang kuat di atas dan yang lemah di bawah. Ini tercermin, misalnya, dari tatanan rumah di Mekah kala itu. Rumah-rumah Quraysh sebagai suku penguasa dan terhormat paling dekat dengan Ka’bah lalu di belakang mereka menyusul pula rumah-rumah kabilah yang agak kurang penting kedudukannya dan diikuti oleh yang lebih rendah lagi, sampai kepada tempat-tempat tinggal kaum budak dan sebangsa kaum gelandangan. Semua itu bukan berarti mereka tidak mempunyai kebudayaan sama-sekali.[8]
Keadaan alam memberikan pengaruh besar terhadap bentuk fisik dan psikis orang-orang Arab. Orang-orang Arab bertubuh kekar, kuat, dan mempunyai daya tahan tubuh yang tangguh, sedangkan pengaruh pada psikis ialah melahirkan watak-watak khas baik positif maupun negatif. Naurouzzaman shiddiqie menjelaskan sabagai berikut:
1.      Watak-watak negatif.
a.       Sulit bersatu.
b.      Gemar berperang.
c.       Kejam.
d.      Pembalas dendam.
e.       Pemabuk dan penjudi.

2.      Watak-watak positif.
a.       Kedermawanan.
b.      Keberanian dan kepahlawanan.
c.       Kesetiaan dan kejujuran.[9]

F .KONDISI SOSIAL.
Sebagian besar daerah Arab adalah gersang dan tandus, kecuali daerah di Yaman yang terkenal dengan kesuburannya. Sebagai imbasnya penduduk Arab tidak tinggal menetap dalam satu tempat, tetapi mereka berpindah-pindah untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Di Arab sering terjadi persaingan dalam berebut kekuasaan yang mengakibatkan sering terjadi peperangan sehingga dalam kehidupan bangsa Arab dikenal pula sistim kasta. Selain itu nilai wanita bagi bangsa Arab menjadi sangat rendah bahkan tak jarang mereka mengubur hidup-hidup anak perempuan yang baru dilahirkan.







BAB III
KESIMPULAN
A.    Geografis jazirah Arab
Dinamakan jazirah Ararb bukan berarti bangsa Arab saja yang mendiaminya melainkan mereka menjadi kelompok mayoritas didalamnya. Letak jazirah Arab ini di ujung barat daya Asia. Sebelah utara berbatasan dengan Syam, sebelah timur dengan Persia dan laut Oman, sebelah selatan oleh samudra India, dan sebelah baratnya dibatsi laut merah
B.     Kondisi politik.
Pemerintahan dikalangan bangsa Arab sebelum islam terbuktikan dengan adanya kerajaan-kerajaan seperti berikut, yaitu:
1.      Arab Baidah.
2.      Arab Aribahyang sering disebut Qohtoniyyah.
3.      Arab Musta’rabah yang berpusat di Makkah dan Yatrsib.
C.     Kondisi kepercayaan.
Sebelum islam datang, bangsa Arab telah menganut agama yang mengakui bahwa Allah sebagai tuhan mereka. Kepercayaan ini diwarisi secara turun-temurun sejak Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Al-Qur’an menyebut agama itu dengan hanif, yaitu kepercayaan yang mengakui keesaan Allah sebagai pencipta alam, Tuhan menghidupkan dan mematikan, Tuhan yang memberi rezeki dan sebagainya.
D.    Kondisi sosial dan kebudayaan.
Keadaan Arab yang gersang dan tandus  itu menjadikan loyalitas mereka terhadap kabilah di atas segalanya. Seperti halnya sebagian penduduk di pelosok desa di Indonesia yang lebih menjunjung tinggi harga diri, keberanian, tekun, kasar, minim pendidikan dan wawasan, sulit diatur, menjamu tamu dan tolong-menolong dibanding penduduk kota, orang Arab juga begitu sehingga wajar saja bila ikatan sosial dengan kabilah lain dan kebudayaan mereka lebih rendah. Ciri-ciri ini merupakan fenomena universal yang berlaku di setiap tempat dan waktu.




DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar, Istianah. Sejarah Peradapan Islam. Malang. UIN-Malang Press, 2008.
Al-Usairy, Ahmad. Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX. Jakarta:     Akbar.2003.
Nurhakim, Moh. Sejarah Dan Peradaban Islam. Malang: UMM Press. 2004.
SJ, Fadil. Pasang surut Peradaban Islam dalam Lintasan sejarah. Malang: UIN-Malang Press. 2008.
Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2008.


[1]. Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2008), 35.
[2] Ahmad Amin, Fajr Islam, terj. Thoha  (Jakarta; Bulan Bintang, 1968), 63
[3] Abdul Razak Nawfal, Tokoh-tokoh Cendikiawan Muslim, terj Muhammadiyah Djakfar, (Jakarta: Kalam Mulia), 5
[4] MOH. Nurhakim, Sejarah Dan Peradaban Islam, (Malang: UMM Press, 2004), 11.
[5] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam Sejak zaman Nabi Adam Hingga Abad XX,terj Samson Rahman (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2004),  64.
[6] Drs. Fadil SJ., M.Ag, Pasang Surut Peradaban Islam Dalam Lintasan Sejarah ( UIN- Malang Press, 2008), 67-82.
[7]. Abdul Razak Nawfal, Tokoh-tokoh Cendikiawan Muslim, terj Muhammadiyah Djakfar (Jakarta: Kalam Mulia), 5

[8]. Ibid.
[9]. Drs. Fadil SJ., M.Ag, Pasang Surut Peradaban Islam Dalam Lintasan Sejarah ( UIN- Malang Press, 2008), 67-82.

1 komentar: